Anton Movie Review : Bourne Ultimatum (finally!)
Paul Greengrass (sutradara seri 2 dan 3) and Doug Liman (sutradara seri 1 dan eksekutif produser seri 1-3) hit it again! Bravo buat keduanya karena kembali membawa semua formula dan elemen Bourne Identity dan Bourne Supremacy ke Bourne Ultimatum. Cerita semakin ditingkatkan, jadi walaupun belum nonton seri 1-2-nya masih tidak terlalu banyak masalah karena disinggung sedikit di seri ini. Namun karena alurnya cepat (sama seperti seri2 sebelumnya), mungkin bikin yang belum nonton seri2 sebelumnya jadi sedikit lemot. It’s okay, you can watch the previous series after watch this. Tapi yang jelas kita akan dikenalkan dengan operasi lain selain operasi Treadstone (yang dijelaskan di seri 1-2), yaitu operasi Blackbrair yang ternyata merupakan perpanjangan dari operasi Treadstone yang ditutup karena dianggap gagal. Operasi Blackbrair sempat bocor ke seorang jurnalis Inggris bernama Ross yang akhirnya mempublikasikannya
dan dibaca oleh lakon kita, Jason Bourne. Bourne penasaran karena menyangkut pautkan namanya serta kematian Marie (remember her, don’t u?).
Ternyata Ross sudah diburu duluan oleh CIA karena pembocoran informasi Blackbrair tersebut. Padahal Ross masih bias tentang operasi ini. Kemunculan Bourne yang menemui Ross diketahui oleh CIA dan mau tidak mau Bourne kembali jadi buruan CIA. Sementara Pamela Landy yang dulu sempat memburunya juga di Bourne Supremacy, juga penasaran kenapa Bourne kembali diburu. Oya, masih ingat ending Supremacy
yang menghadirkan percakapan Bourne dan Landy tentang identitas asli Bourne? Nah, itu ternyata merupakan bagian pertengahan dari seri ketiga ini. Jadi bisa dibilang, bagian awal hingga pertengahan seri ini terjadi persis setelah Bourne menemui putri Neski di Rusia dan sebelum adegan terakhir di Supremacy tersebut. Alur yang cukup unik dan ini sempat bikin gw kaget juga.
Balik maning nang Bourne. Petunjuk dari Ross mengarah ke sumbernya, yaitu Daniels yang masih misterius tujuannya. Belum sempat mengorek informasi dari Daniels, salah satu assassin CIA di Moroko (karena dianggap membocorkan rahasia) menghabisi Daniels. Apalagi Nicky (masih ingat kan, cewek ini ada di kedua seri sebelumnya) juga diburu karena dianggap membantu Bourne. Adegan kejar2an super seru
yang melibatkan mobil dan motor menghiasi layar, sama seperti kedua seri sebelumnya. Adegan kejar2an full adrenaline rush ditambah hancur2an mobil abis2an ditambah camera handheld ditambah music score techno, menjadi sebuah scene yang luar biasa mendebarkan. (Adegan kejar2an mobil ini bisa jadi trademark tersendiri buat keseluruhan seri Bourne yang selalu dikedepankan dan digarap dengan apik)
Walaupun formulanya sama dengan seri 1 dan 2, tetap saja kadar tensinya sama (lebih malah) dan lebih dahsyat (di sini neh pentingnya tata suara 5.1 surround!). Apa yang sebenarnya terjadi di dalam badan CIA, dan apakah sebenarnya Blackbrair itu? Bagaimana pula ini semua berhubungan dengan identitas asli David Webb, eh I mean Jason Bourne? Well, it would be an awful spoiler if I told u. Hehehe…
Overall, tidak ada perbedaan formula antara Ultimatum dan seri2 Bourne sebelumnya. Hanya saja, Greengrass dan tim penulis naskah membawanya ke tingkat cerita yang lebih tinggi. Salut dengan beberapa informasi disini yang belum pernah disinggung di seri2 sebelumnya. Begitu pula dengan informasi dari seri 2 sama sekali tidak disinggung di seri 1. Itu yang menjadikan Bourne selalu bikin penasaran
buat ditonton (selain of course adegan2 action thriller yang bikin jantung berdetak lebih dari 160 bps). Begitu juga dengan karakter2 baru yang dihadirkan di setiap serinya, benar2 baru dan tidak disangka memiliki kaitan dengan kejadian2 di seri2 sebelumnya. Dengan kata lain, dari segi naskah keseluruhan Bourne trilogy sangatlah kuat. Belum lagi ditambah adegan2 cepat dan handheld seperti
yang dihadirkan di seri2 sebelumnya yang bikin kita mau nggak mau memutar otak lebih cepat pula bila tidak mau ketinggalan. Adegan perkelahian antara Bourne dan assassin CIA di Maroko juga sangat mengesankan karena di dua seri sebelumnya, Jason selalu lebih tangguh daripada lawan2nya dan musuh2nya bisa dengan mudah ditumbangkan, kali ini posisinya imbang. Seru abis dan beda banget
dengan adegan2 baku hantam lainnya, seperti film2nya Jackie Chan misalnya.
Ketegangan alur dijaga dengan benar sehingga tidak terjadi kebosanan karena adegan aksi melulu (seperti di Transformers dimana penonton dibombardir action tanpa henti yang akhirnya menimbulkan titik kebosanan dan tidak ada satupun yang mengesankan di benak penonton). Dua hal itulah yang menjadi kekuatan utama seri2 Bourne.
Kalau di dua seri sebelumnya kita disuguhi pemandangan indah negara2 di Eropa sebagai background (plus eksotisme India di Supremacy), kali ini tidak terlalu banyak yang dipamerkan. Hanya London (dan sedikit Rusia, untuk menyambung seri sebelumnya) yang mewakili Eropa, dan Amerika Serikat yang merupakan "kampung halaman" Bourne. Sebagai bonus dan itu cukup impressive, pemandangan eksotisme Moroko ditampilkan lengkap dengan background music score yang mendukung. Very beautiful and impressive!
Setelah dibombardir adegan2 aksi yang mendebarkan, perasaan lega dan secercah senyum di bibir muncul setelah lagu kebangsaan "Extreme Ways"-nya Moby dikumandangkan (emangnya Adzan Maghrib?). Ternyata masih dipakai sampai seri terkahir, bagus deh, jadi setiap kali denger lagu ini jadi ingat Jason Bourne dan adegan2 super mendebarkannya. It was over and the theme song will be sung for the last time (or so I thought).
Layaknya film2 komersil berbudget besar lainnya, Bourne Ultimatum pun tak lepas dari iklan2 selipan. Kalo di Supremacy ada sisipan iklan kripik Lay’s (perhatikan adegan saat di Goa, India), di Ultimatum yang paling menonjol adalah operator selular Three (adegan di London) dan Motorola (liat aja setiap tokohnya punya hp Motorola, sama seperti James Bond yang karakternya pada pake Sony Ericsson semua). Yah, sah2 aja sih, namanya juga butuh dana, iya nggak? Tapi kok promosinya di Indonesia kurang ya? Padahal Three kan produk baru di Indo, ini kan moment yang bagus buat sekalian promosi.
Seperti yang diucapkkan oleh Jason Bourne, "This is where I started, so this is where I end", maka Ultimatum adalah penutup semua seri Jason Bourne yang (insya Allah) bisa bikin Bourne hidup tenang, tidak dikejar2 lagi. Anyway, cukup terkejut juga ketika mendengar ada seorang penulis yang melanjutkan kisah Jason Bourne (penulis novel ketiga serinya, Robert Ludlum, meninggal beberapa saat sebelum Bourne Identity dirilis). Bahkan "extended story"-nya ini sudah keluar 2 judul. Well, apakah ceritanya masih relevan atau malah dipaksakan? Apakah juga akan dibuat filmnya? Whatever happens, gw tetap antusias menontonnya walaupun tidak terlalu berharap.
Overall score : Absolutely 5 from 5 stars (kalo dibarengi dua seri sebelumnya, I will add the stars into unlimited, I don’t know.
I’m speechless karena baru lega seri Bourne akhirnya berakhir).