AMR : Across The Universe

Across_the_universe_xlgBaru liat trailernya, gw langsung jatuh cinta ma neh film,

pengen terus nonton ulang,

liat visualisasi sureal yang keren dan powerful,

dan of course denger hit-hit single The Beatles yang emang timeless.

Sayang, neh film ga tayang di Indo, mungkin dianggap kurang komersil. Tau lah selama ini film musikal jarang banget diapresiasi di sini. Bahkan sebagian besar temen2 gw suka mencibir negatif tentang film musikal.

Yang ga masuk akal lah, bosenin karena isinya nyanyi doang lah…

Well, menurut gw mereka yang bilang gitu tidak melihat film musikal dengan kacamata seni, seperti sebagaimana seharusnya.

Mereka memakai kacamata bahwa film adalah produk realis,

harus based on reality.

Padahal menurut gw, sebuah film, sama seperti sebuah lukisan,

tidak harus selalu seperti itu.

Liat donk betapa hampir setiap kali ada film musikal,

diganjar setidaknya nominasi Oscar, penghargaan tertinggi

supremasi film Internasional.

Back to Across The Universe (ATU).

Dari jajaran cast, memang tidak ada nama2 kondang yang menghiasi.

Semuanya adalah nama asing.

Memang kalo ditarik ke belakang, hampir semuanya belum punya

filmografi sebelum ATU.

Mungkin cuma nama Evan Rachel Wood yang dulu pernah menghentak dunia dengan peran kontroversialnya di Thirteen (2003).

Setelah liat sutradaranya baru kita bernafas lega,

pantas saja hasilnya seperti ini.

Julie Taymor-lah wanita cerdas di balik penggarapan film yang

sangat artistik ini.

Sebagai referensi, Julie pula lah yang berada di balik keindahan

visualisasi Frida, biografi pelukis terkenal Frida Kahlo.

Menikmati cerita ATU sebenarnya sederhana.

Enam pemuda-pemudi dari background berbeda2 berkumpul di sebuah flat dengan tujuan dan problema yang berbeda2 pula.

Tahun 1960-an adalah masa dimana perang Vietnam sedang berkecamuk.

Ada yang kontra, meneriakkan world peace dengan logo khasnya.

Gaya hidup hippies, seks bebas, marijuana, warna-warni dan desain

Psychadelic.

Di sini kita ditunjukin bagaimana perang tuh tidak hanya menyengsarakan mereka yang memang ada di medan perang.

Tapi juga semua orang yang mungkin tidak kita duga sebelumnya

yang tidak terlibat sama sekali dalam perang.

Contohnya Jude yang jealous dan marah karena Lucy lebih banyak menghabiskan waktunya untuk menjadi kelompok radikal anti perang,

Bagaimana Max yang sebenarnya anti perang

tapi harus ikut wajib militer.

Lose-lose solution. Ikut perang mati, ga ikut perang juga mati.

Kenapa? Liat aja sendiri di filmnya.

Yang unik adalah, bagaimana ternyata hit2 single The Beatles

bisa dirangkai menjadi sebuah cerita yang menyentuh,

tidak terkesan maksa.

Bahkan nama2 tokoh yang disesuaikan dengan lagu2 The Beatles,

seperti Jude (dari lagu Hey Jude), Lucy (Lucy In The Sky With Diamond), dan Prudence (Dear Prudence), menambah suasana Beatles di dalamnya.

Beberapa adegan sangat memorable dan menyentuh,

seperti saat seorang anak kulit hitam duduk bersembunyi di tengah

huru-hara sambil nyanyi Let It Be.

Saat Jude dan Lucy bercumbu dalam keadaan telanjang di dalam danau, sangat seksi tanpa terkesan vulgar.

Adegan ketika Jude berusaha meraih Lucy di tengah huru-hara di depan sebuah university, dengan iringan Across The Universe.

Very touching.

Adegan ketika gambar Uncle Sam keluar dari poster,

dan berlanjut dengan adegan I Want You (She’s So Heavy)

sangat indah sekaligus ironis.

Atau ketika ending dimana Jude menyanyikan All You Need Is Love

di atap gedung, berharap menemukan Lucy di sekitarnya…

dan akhirnya menemukannya. Wow, so romantic…!

ATU menurut gw adalah tribute yang gede banget buat The Beatles.

Seruan dan pesan anti-war mereka disampaikan lewat ATU

dengan visualisasi yang luar biasa indah.

Setiap lirik lagu2 anti war seperti Across The Universe, Strawberry Field Forever, dan masih banyak lagi, berhasil diterjemahkan

dalam bahasa gambar yang artistik.

Film yang jauh lebih baik daripada film2 serupa

yang dibuat The Beatles sebagai pesan anti-war,

seperti Help! atau A Hard Days Night.

Andaikan saja John Lennon dan George Harrison masih hidup

dan melihat film ini,

betapa bangganya mereka.

Satu hal yang terbukti melalui ATU,

bahwa hit2 single The Beatles itu bener2 timeless,

bisa dinikmati di berbagai suasana hati,

gembira, jatuh cinta, patah hati, sedih, merasa rebellious,

semuanya….

Akhir kata (ceile…kayak kata pengantar ajah)

gw yang pasti pengen nonton film ini lagi, lagi, dan lagi.

SUPERB!!!! GREAT VISUALISATION OF A BAND’S HITSINGLES.

Overall score : 4.5 out of 5 stars.

Leave a Reply