Proses atau Hasil Akhir?
Thursday, December 11th, 2008Hai semua, mau kasih kabar neh tentang nasib sidang TA gw kemaren.
Menurut anak-anak sih gw dibantai abis2an. Tapi menurut gw nggak…
Gw masih bisa defense my opinion dan mereka (para penguji) fine2 aj dengan penjelasan gw. Emang sih agak aneh, terutama Deddi Duto yang mengulangi pertanyaan yang sama dengan ketika sidang proposal. Target audience yang utama siapa? Apakah yakin efektif? Huuuhhhh……
Sementara yang lain mencerca secara teknis. It’s ok gw akuin. Terutama dari segi sound byk sound yang meleset. Itu gw jg bingung pas diedit fine2 aj, tapi pas dirender geser2 sendiri. Aneh lah…!
Trus si Bing Bedjo komentar tentang terlalu byk “kebetulan” (padahal cuma dua…). Ah come on Pak Bing, ini tuh film, film pendek lagi. Kalo ga dibuat kebetulan bisa panjang. Bayangin aja kalo para jagoan di film action tidak pake formula “kebetulan”, yah cepet mati dan cepet abis donk filmnya. Movies need coincidences!
Kalo Pak Andrian lucu. Dia perhatiin bloopers2 nya. Ha6. Aneh2 aja. Dia malah curhat kalo dia seneng merhatiin gitu2an, jadinya kalo nonton film lbh dari sekali. Hobby yang aneh…
Ok, cukup sudah para penguji membabat film gw sampe2 mereka lupa untuk memberikan penilaian positif. Sehancur itukah film gw? Kenapa kalian ga merhatiin bagaimana gw menyusun adegan, abis ini gini, terus gitu, dan variasi2 angle yg lmyn byk di film gw. Sehancurk itukah film gw?
Menurut gw nggak. Masalahnya, film gw itu bukan tergolong film ringan.
Tema yang diangkat terlalu berat dan bikin penonton berpikir (terutama di agak akhir film). Apalagi byk hal yang mengganggu dari film gw.
Gw emang sengaja dan mereka ternyata bukan tipe penonton seperti itu. Mereka lebih suka film popcorn ringan yang menyenangkan, so sweet…
Ini terbukti dari ketika diputarnya film berikutnya yang menjadi peserta sidang.
Namanya C. Begitu film abis, para penguji speechless. Terlihat dari wajah Ce Ani yang sumringah bahagia. Emang sih gw akuin bagus dari segi teknis karena dia backingannya jg kuat, mulai dari equipment yang lebih profesional dan kru yang lebih byk. Dia jg cerita kalo editingnya bukan dia yang garap. Dia cuma ngawasin (yah kayak produser ngawasin editornya gitu deh…).
Belum lagi temanya yang sebenarnya termasuk ringan, yaitu anak keterbelakangan (William Syndrome) dan kesehariannya.
Jadi yah dengan mudahnya menyentuh hati para penonton.
Terus pas keluar Miss Deb nyamperin nyeletuk gini, “Ton, denger2 kamu kalah pamor hari ini.” I know and I don’t care. Karya C emang bagus koq tapi gw ga merasa kalah koq. Gw cukup bangga dengan karya gw sendiri. Tau kenapa?
Pertama, gw lakuin semuanya sendiri, mulai nulis naskah, cari aktor, cari lokasi, syuting, edit gambar, edit suara, sampe authoring DVD. Semua gw.
Kedua, come on jangan dibandingin donk. Gw ma C jelas2 beda donk. Kalo loe liat, film gw fokus ke jalinan cerita dan dirancang buat bikin penonton berpikir dan terganggu. Sedangkan kalo karya si C more seems like long public service ad. Apalagi ditambah kalimat2 persuasif di saat slide foto2. Bahkan karya C sama sekali ga ada naik-turun cerita. Murni deskriptif keseharian penderita syndrome itu. So totally different… jangan dibandingkan karena efek ke kalian juga beda.
I know di luaran sana pasti orang bisik-bisik tetangga ngomongin gw ma C. : “eh kasian ya si Anton karyanya dibabat abis. Pasti dia cegek banget. Apalagi dia yang bawa2 home theatre sama LCD.”
I know, I know… but I DON’T.
I know kalian emang bukan target audience gw makanya kalian ga bisa terima.
I have my own target audience. And for C, I have no envy at all at him.
Gw memuji karyanya, dan dia pengen banget liat karya gw (dia ga bisa liat karena gw maju duluan).
Walaupun sebelum TA gw ga terlalu deket ma dia, dia selalu salah manggil gw Robby n cukup sering tuker2 pengalaman selama TA…
Ketika akhir sidang dia menuai pujian dan gw dicuekin orang2…
Waktu gw mau brkt plg pamit ke dia, dia blg, “Yang penting proses, bukan hasil akhir…”
Oya? Andai aja orang2 awam dan juga para penguji gw considering that part.